Magi, Sains, dan Agama
Detail Produk
Bagaimana jika masyarakat primitif yang dicap irasional ternyata memiliki sistem pengetahuan yang cara kerjanya mirip orang modern? Berbekal observasi di suku-suku Kepulauan Trobriand, Papua Nugini—daerah yang dicap primitif—antropolog Malinowski menemukan bahwa mereka tidak hidup dalam dunia irasionalitas. Mereka berpikir, mengamati dengan teliti, mempertimbangkan risiko, dan mencari berbagai solusi untuk menghadapi ketidakpastian hidup.
Mereka menggunakan pengetahuan empiris untuk menyelesaikan persoalan yang dapat diprediksi, seperti bercocok tanam, menangkap ikan, membuat perahu, menentukan waktu kerja, membuat kerajinan, dan lain sebagainya. Mereka juga sadar bahwa hidup tidak selalu dapat diperhitungkan dan dikendalikan, sehingga menghadirkan magi (kekuatan gaib) sebagai mekanisme dalam menghadapi hal-hal tersebut—seperti badai, gagal panen, kecelakaan—sekaligus berfungsi meredakan kecemasan. Sementara itu, agama hadir untuk memberikan kepastian emosional dalam menghadapi krisis eksistensial kelompok.
Bahkan, mitos, menurut Malinowski, bukan sebatas cerita khayal masa lalu, justru menjadi legitimasi kehidupan moral, hukum adat, dan aturan masyarakat: bekerja dalam keseharian, menciptakan keteraturan, dan menjaga kesatuan, yang kemudian berdampak penting mempertahankan kelangsungan hidup komunitas.
Buku ini, selain berisi kritik teoretis, merupakan eksplanasi Malinowski terhadap masyarakat primitif dari kacamata mereka sendiri, sehingga menghasilkan deskripsi mendalam dan realitas “primitif” yang unik.
*
Judul: Magi, Sains, dan Agama: Perjalanan Mitos, Iman, dan Rasio Manusia
Pengarang: Bronislaw Malinowski
Penerjemah: Wanwan Kurniawan
Penerbit: IRCiSoD
ISBN: 978-634-292-119-7
Tebal: 240 hlm.
Jenis Cover: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Tahun: 2026 (Oktober)
Ukuran: 14×20 (cm)